Sudah 5 hari aku tak
membalas smsnya dia. Aku masih pengen sendiri, aku gak pengen sms dia dulu. Aku
masih memikirkan mimpi itu dimana aku harus mengakhirinya. Hari jum’at, aku sms
dia. Aku memang berencana untuk membalasnya pada hari jum’at, karena hari
jum’at adalah hari yang paling baik diantara hari-hari lainnya. Aku begitu
merindukannya, maka aku sms dia, aku tanyak kabar dia. Aku piker dia gak akan
bales sms ku, ternyata dia masih membalas sms ku ^__^.
Aku menanyakan pendapat dia tentang pacaran. Dan dia menjawab…bla..bla..bla..bla. aku puas dengan jawabannya. Setelah itu, aku memberanikan diri untuk mengatakan keinginanku yang sebenarnya aku ingin menceritakan kemarin-kemarin. Tapi aku masih belum siap melepaskan dia. Dan akhirnya aku mengatakan sejujurnya bahwa aku ingin putus darinya. Aku bukan bermaksud mempermainkan perasaan dia, alasanku putus karena aku gak ingin cinta kita berdua itu ternodai, aku ingin cinta kita berdua itu suci bersih, sebelum kejauhan, dan belum terlambat, aku bilang putus. Aku bilang padanya kalau pacaran itu gak ada gunanya, dan aku baru sadar tentang itu. Aku menceritakan tentang siklus kehidupan kepada dia. Secara implisit aku bermaksud menjelaskan bahwa pacaran itu sebenere mendekati zina. Aku gak mau cinta kita kotor. Aku bilang padanya bahwa kita lebih baik biasa aja, berteman aja seperti biasa, tak ada sayng-sayangan. Kalau dia emang sayang ama aku, aku ingin dia menyimpannya buat aku, dan sabar menunggu hingga waktu itu datang, aku pun juga gitu, akan menjaga perasaan ini buat dia. Tapi, aku kecewa ma dia, dia gak ngerti dan gak mau ngerti tentang alasanku. Padahal aku melakukan itu semua, demi kebaikan kita berdua. Dan kita jika emang berjodoh nantinya, kita pasti bener2 bisa mendapatkan kesungguhan cinta yang sebenarnya. Jika kita sama2 yakin dan berdoa, aku yakin kog. Tapi, kalau hal seperti ini hanya bisa dijalankan oleh sepihak, apa gunanya jika yang satu sudah gak mau membantunya untuk menyeimbangkan semua ini. Dia tetap kekeh dengan pendapatnya sendiri, sedangkan aku, aku berusaha meyakinkan dia, tapi dia tetap saja tak mengerti. Aku lelah. Dari dulu, pikiran kita emang gak pernah bisa disatukan. Terus saja kita saling lempar kata.
Dan pada akhirnya, aku mengatakan kata-kata yang mungkin menyakitinya, kalau kita memang harus mengakhirinya. Berat sebenarnya aku mengatakan kata2 “PUTUS”. Tapi apa daya, dia tak mau mengerti, dan aku memutuskan untuk memilih apa yang harus aku pilih sesuai dengan ajaran agama yang aku anut. Aku berharap, suatu hari nanti dia bisa mengerti dan memahaminya. Amin
Aku meminta maaf padanya karena aku tak bisa jadi cewek yang dia mau, mungkin untuk yang terkhir kalinya aku mengatakan padanya kalau aku sayang banget sama dia. Dan dia membalasku bahwa dia juga menyayangi ku. Ya allah….. semoga ini memang yang terbaik buat kita.
No comments:
Post a Comment